Selasa, 20 November 2018

Tentang Menjadi Sarjana Salah Jurusan & Blog yang Mendatangkan Pekerjaan Paling Tak Terduga




Ini adalah postingan pertama saya untuk BPN 30 Day Blog Challenge #Day01. Biasanya saya gatot kalau ikut-ikutan post challenge macam ini. Tetapi nggak ada salahnyalah nekat ikutan lagi. Lumayan buat nambah jumlah postingan di blog berdebu ini. Dan sesuai tema postingan yang sudah ditentukan, unggahan pertama ini akan membahas 'Kenapa menulis blog?'

Kenapa saya sok-sokan ngeblog segala?

 

Saya bukan blogger yang femes, iya femes, bukan famous. Sama sekali nggak femes. Dan saat saya memulai aktivitas blogging, blogger hits dengan jutaan view dan follower sudah bertebaran di dunia maya. Blogging untuk menjaring popularitas sebagai selebriti internet bahkan sudah mulai tergeser oleh jejaring sosial. Jadi saya nggak ada niatan buat terkenal. Berharap ada yang mau baca blog saya pun tidak.

Saya meluncurkan The Stupid Bookworm, blog pertama saya di tahun 2012. Pada dasarnya ini adalah blog dengan konsep review buku, lalu berkembang menjadi segala hal yang berkaitan dengan buku. Di postingan-postingan awal, saya mencoba menulis review super panjang tentang buku-buku favorit yang sudah diangkat ke layar lebar. Saya ulas semua buku dan filmnya sekalian. Panjangnya bisa sampai sepuluh ribu kata, lho.

Saat memulai The Stupid Bookworm, sebenarnya saya cuma kepingin jadi orang yang tetap produktif selama masa-masa pencarian kerja. Pengangguran boleh, tapi jangan sampai kayak gombal tanpa guna yang tidak menghasilkan apa pun. Begitulah pikiran saya waktu itu. Dan ternyata membuat blog memang salah satu langkah terbaik yang saya ambil di dalam hidup.


Sumber penghiburan di masa-masa jobless

 

Di awal 'karir' blogging (yang tidak menghasilkan uang juga sebenarnya) mbak-mbak pengangguran ini cukup putus asa mencari kerja. Saya adalah sarjana ekonomi dari jurusan akuntansi, tetapi saya justru paling benci pelajaran hitung-menghitung. Dengan transkrip nilai bertabur huruf B-, C, dan D, sebuah keajaiban saya bisa memaksakan diri buat menyelesaikan studi satu setengah tahun sebelum injury time. Saya bahkan bisa menaikkan IPK jadi tiga koma. Lumayan untuk ukuran mahasiswi bodoh yang nyaris jijik terhadap akuntansi.
 
Singkat kata, saya berhasil menyematkan gelar SE dari sebuah universitas bergengsi di belakang nama saya, tetapi gagal melewati setiap interview untuk menjadi staf accounting. Waktu itu saya pikir kesempatan kerja yang tersedia buat saya cuma menjadi staf accounting, administrasi, pegawai bank, PNS, atau marketing. Padahal saya benci seragam, birokrasi tetek bengek instansi pemerintah, akuntansi, tugas-tugas administratif, dan lingkungan kerja yang kelewat formal. Saya juga terlalu introvert untuk menjadi seorang tenaga penjualan. Terus mau kerja apa, bego?
Sarjana bau toga yang belum ngeh akan kerasnya dunia pengangguran
Karena nggak kepingin berlarut-larut dalam kesedihan atas masa depan yang buntu, saya menyalurkan waktu dan energi untuk menulis. The Stupid Bookworm menjadi hiburan utama saya selama bertahun-tahun. Walaupun saya harus pergi ke warnet setiap kali mau posting. Pasalnya saat itu saya nggak ada PC, laptop, atau bahkan smartphone. PC di rumah baru jebol dan saya masih pakai Nokia X2-01 yang nggak ada paket datanya. Iya, se-outdated itulah saya.

Biasanya saya menulis draft dengan tangan, lalu berangkat ke warnet untuk mengetik dan mengunggahnya sekalian. Mana waktu itu masih belum bisa naik motor juga. Jadi ke mana-mana harus ngangkot. Sebesar itulah upaya yang harus saya keluarkan untuk sekadar blogging. Karena itu juga menulisnya jadi niat. Setiap postingan ditulis dengan detail dan serius. Tetapi ada kepuasan tersendiri setiap satu tulisan terbit. Nggak ada yang mau baca pun saya nggak peduli.

Dapat pekerjaan tetap berkat blog 

 

Beberapa tahun blogging dan mendapat komentar positif (yang cuma segelintir) dari para pembaca saya (yang cuma segelintir juga) membuat saya terpikir mungkin sebenarnya saya bisa menulis. Saya suka menulis sejak SD. Tapi saya tidak pernah memandangnya sebagai hobi atau mimpi. Cuma sesuatu yang saya lakukan sekali waktu.

Saya masih tetap gagal mendapatkan pekerjaan, lalu sahabat-sahabat saya menyarankan untuk menulis novel saja. "Kan wis biasa baca novel, bikin sendiri coba." Saya pun menurut dan mulai bermimpi menjadi seorang penulis fiksi. Saya benar-benar menyelesaikan sebuah novel dan mengirimnya ke salah satu penerbit mayor, tetapi ditolak. Saya sadar kalau fiksi buatan saya masih sangat mentah dan tidak ditulis dengan baik. Jadi begitulah, mimpi baru saya berakhir dengan cepat. Putus asa dobel? Pastinya.

Lalu salah satu sahabat saya, Syahrin Alia memberikan informasi lowongan pekerjaan sebagai penulis di media online. Saya bahkan nggak tahu media online itu apa. Wong smartphone saja nggak punya. Tapi saya tetap nekat melamar juga. Waktu itu ada sebuah portal berita nasional yang butuh penulis untuk rubrik lifestyle dan reviewer online shop. Mereka cari orang yang bisa nulis artikel seputar gaya hidup, tahu cara rewrite (bukan menerjemahkan) dari materi berbahasa Inggris, dan mampu membuat review. Sesederhana itu. Tanpa syarat umur maksimal, ijazah S1 dari universitas berakreditasi A, IPK 3.00, penampilan menarik atau tinggi badan minimal. 

Saya pikir saya tahu cara menulis review, meskipun bukan review olshop. Saya juga terbiasa membaca buku berbahasa Inggris. Nggak ada salahnya dicoba. Jadi saya pun mengirimkan contoh tulisan saya.

Singkat kata lagi, saya mendapatkan pekerjaan sebagai penulis artikel lifestyle itu. Saya kurang paham kenapa mereka memilih saya yang sudah tergolong tua, gaptek, nol pengalaman, dan tidak bermodal ijazah sastra Inggris/Jerman/Indonesia atau komunikasi seperti teman-teman sekantor yang jadi content writer juga.

Kantor adalah sinonim taman bermain.
Berbulan-bulan kemudian, manajer saya cerita kalau salah satu poin yang membuat dia mempertimbangkan seorang kandidat adalah apakah orang itu punya blog atau tidak. Dia butuh orang yang suka menulis dan benar-benar menulis, setidaknya lewat jurnal yang dipublikasikan di dunia maya.

Jadi di sinilah saya, mendapatkan pekerjaan yang tidak pernah saya bayangkan berkat sebuah hobi yang baru saya temukan.

Nggak Jadi PNS atau Karyawan Perusahaan Mentereng Itu Bukan Hal Buruk, kok 

 

Sekali lagi, saya bukan blogger yang femes. Saya juga bukan penulis artikel yang luar biasa. Gaji saya cuma standar UMK kota Malang dan masih harus ambil job freelance buat nambah uang jajan. Orang-orang di sekitar pun berpikir kalau pekerjaan saya payah karena bukan di perusahaan mentereng dan kerja 8 to 4 dengan setelan formal plus makeup cetar. Bahkan salah satu mantan saya menyebut pekerjaan saya 'receh', karena cuma menjiplak tulisan orang. Cuma bercanda memang, tapi saya tahu kalau dia memang berpendapat seperti itu dengan keawamannya tentang content writing. Dan inti dari paragraf yang cukup panjang ini adalah saya bangga mengatakan bahwa saya adalah seorang content writer yang menyukai pekerjaan saya. Sudah hampir lima tahun dan saya masih mencintai pekerjaan ini.
Ngantor pakai piyama? Bebas, dong.
Saya menuliskan hal-hal yang saya sukai dan mempelejari beberapa hal berguna dalam perjalanan saya. SEO misalnya. Cara mengolah satu lembar transkrip jadi tulisan sebanyak mungkin tanpa harus menipu pembaca misalnya. Saya berangkat ngantor dengan outfit dan dandanan ke mall atau justru pakaian 'dinas rumah'. Biasa telanjang kaki atau pakai sandal babi di dalam ruangan. Dan yang paling penting saya nggak perlu berkutat dengang angka-angka yang paling saya benci.
Ngantor gaya hibrida Panglima Polim-Passion of The Christ gini juga boleh.
Saya dikelilingi rekan-rekan kerja yang tidak takut untuk mengabaikan ekspektasi sosial. They're big dreamers, adventurers, author wannabes, aspired standup comedians, agnostics, deists, feminist gentlemen, ultra independent women, bad ass moms, crazy boys inside thirty something men, fun fearless singles, and creative minds.

Apakah saya masih kepingin menerbitkan buku? Iya, saya berani memimpikannya lagi sekarang. Satu hal yang saya pelajari dari tahun-tahun pencarian kerja ini adalah tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu, untuk mengejar sebuah mimpi. Kalau Dr. Seuss bisa menemukan kesuksesan di usia 40-an, kalau Colonel Sanders yang berusia 60 tahun bisa melahirkan KFC setelah 1009 penolakan, berarti kita semua juga bisa.