Senin, 29 Desember 2014

Trip to Pagoda Watugong: Menengok patung dewi pembawa berkah di pagoda tertinggi di Indonesia

The traveler wannabe is back. Hehehhe..

Kali ini saya jalan-jalan ke Semarang. Bukan buat liputan. Lebih ke balas dendam karena tahun lalu ke Semarang tanpa sempat menyambangi tempat-tempat keren di sana.

Bertiga kami keliling ibukota Jawa Tengah ini, dipandu satu teman yang sudah beberapa tahun ini tinggal di sana. 

Salah satu tujuan yang lumayan berkesan adalah pagoda Watugong. Ini sedikit oleh-oleh cerita, foto, plus hasil riset kecil-kecilan (atau lebih tepatnya gugling ke sana kemari, soalnya sekalian dibikin artikel buat kerjaan) yang bisa saya bagi.

Pagoda Watugong, Avalokitesvara, atau Metakaruna?

Pagoda ini punya nama resmi Pagoda Avalokitesvara Watugong. Tapi lebih banyak yang menyebut Pagoda Watugong. Kenapa?


Selain karena namanya kepanjangan dan kurang familiar di lidah Indonesia kayak punya sayah, di sini ada sebuah lempengan batu yang ditumpangi bulatan batu kecil, seperti bentuk gong.

Pagoda Watugong juga disebut Pagoda Metakaruna atau pagoda cinta dan kasih sayang, sebab di dalamnya terdapat beberapa buah patung dewi Kwan Im yang dikenal sebagai dewi welas asih.

Tempat ibadah sekaligus lokasi wisata
Selain menjadi tempat sembahyang pemeluk Buddha, saat hari libur Pagoda Watugong juga dikunjungi oleh wisatawan lokal yang sekadar ingin menikmati keindahan arsitekturnya.

Ada juga yang menjadikan pagoda ini lokasi untuk foto pre-wedding. Sepertinya kalau foto pre-wed ala Putri Huanzhu atau Jang Geum di sini memang cocok. Teman saya juga nyoba foto di antara pepohonan yang ranting-rantingnya dililit pita-pita merah.


Hasilnya memang bagus, kan?

Asiknya lagi, pagoda ini bebas dikunjungi siapa saja. Karena pada dasarnya memang tempat ibadah, jadi pengunjung tidak dipungut biaya masuk. Biasanya pengunjung sendiri yang berinisiatif melebihkan ongkos parkir sebagai sumbangan sukarela.

Pagoda China di tengah tanah Jawa
Pagoda ini dibangun dengan arsitektur gaya Tiongkok. Warna merah mendominasi bangunan utama di kompleks pagoda.
 
 
Sejumlah ukiran naga, burung hong, serta kura-kura semakin memperkuat nuansa China kuno di pagoda.




 

Pagoda ini terdiri dari tujuh lantai, dengan tinggi mencapai 45 meter. Karena ketinggiannya itu Avalokitesvara berhasil memecahkan rekor MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia.
 
Kalau diperhatikan, desain pagoda ini mirip dengan Pagoda Shuikou yang ada di Ningdu, China. Ini, nih, fotonya.

Yang ini Watugong.

Kalau yang ini Shuikou
Photo by arts.cultural-china.com
Bagitu masuk  ke jalan menuju pagoda, kita bakal disambut rupang Buddha emas yang duduk bersila di bawah pohon. Patung ini menggambarkan  Siddharta Gautama yang mendapat pencerahan di bawah pohon Bodhi.

Di sebelahnya ada patung Dewi Kwan Im yang berdiri menghadap jalan masuk. Nantinya di dalam kita akan menemui lebih banyak lagi patung sang dewi.
Di pelataran kompleks pagoda terdapat dua buah gazebo yang teduh (sayang kelupaan difoto). Banyak wisatawan yang menyejukkan diri dari udara panas Semarang di sini.

Patung Dewi Kwan Im pembawa berkah
Ciri khas dari pagoda ini adalah beberapa rupang (patung) Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru mata angin, melambangkan cinta kasih sang dewi yang tersebar ke seluruh penjuru bumi.

Patung-patung ini dipercaya bisa memberikan berkah bagi siapapun yang memujanya. Rupang dewi Kwan Im yang membawa anak perempuan biasa digunakan peziarah yang ingin mendapatkan anak perempuan. Begitu juga dengan rupang dewi Kwan Im yang sedang menggendong anak laki-laki, konon bisa mewujudkan harapan memiliki anak perempuan. Sementara rupang Dewi Kwan Im yang membawa bunga dan teratai konon bisa menjadikan peziarah enteng jodoh. Boleh percaya, boleh nggak :D


Rupang Buddha tidur yang hilang
Kata teman yang jadi tour guide gratisan buat kita, yang paling unik dari Watugong adalah rupang (patung) Buddha tidur, seperti yang ada di Thailand itu. Tapi pas kita ke sana lagi, ternyata rupang Buddha-nya sudah raib. Dan bodohnya kita nggak tanya-tanya ke Pak Penjaga, rupang itu sekarang ditaruh di mana.

Padahal ternyata Buddha tidurnya nggak ke mana-mana. Letaknya memang di bagian bawah kompleks yang landai, jadi nggak kelihatan dari atas.

Akhirnya setelah give up nyari-nyari Buddha tidur kita cuma foto-foto dan ngaso di gazebo. Terus langsung cabut ke tujuan berikutnya. Sebenarnya masih banyak yang belum sempat kefoto, sih.

Jadi sampai di situ bagi-bagi cerita wisata Semarang-nya. Tapi masih ada 4 tempat lagi di Semarang yang mau aku ceritain kapan-kapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar