Minggu, 16 November 2014

Short trip to Watu Ulo: Fenomena karang bersisik di pantai selatan Jember

September 2014 lalu saya dan beberapa teman sekantor mampir ke pantai Watu Ulo. Kunjungan ke pantai yang menjadi salah satu andalan pariwisata Jember, Jawa Timur ini lumayan berkesan soalnya ini kali pertama saya ikut berangkat buat liputan travel. Biasa mampir ke tempat-tempat wisata sebagai turis lokal biasa yang sekadar menikmati keindahan alam sekitar, kali ini saya mendapatkan banyak sisi cerita dari sebuah tempat wisata. Meskipun statusku cuma sekadar pengikut (artinya temen-temen yang lebih banyak wawancara dan ngambil foto :D).

Pantai Watu Ulo ini masuk ke wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember. Letaknya bersebelahan dengan Pantai Tanjung Papuma. Pantainya cukup indah, dengan ombak ganas namun mempesona khas pantai selatan. Tapi daya tarik utamanya jelas batu karang bersisik yang menjadi asal-usul nama pantai Watu Ulo.

Di kejauhan tampak desa nelayan dan gugusan batu karang raksasa yang sekilas mirip pulau. Sayang, keindahan pasir putihnya sedikit ternoda sampah.

Meskipun saat itu hari libur, tapi Watu Ulo relatif sepi pengunjung. Cuma ada beberapa wistawan lokal, penjaga pantai, dan beberapa pemancing ikan.
Photo by Yoga Tri Priyanto


Pas sampai di sana kebetulan air laut sedang surut. Baru beberapa jam kemudian airnya pasang lagi. Jadi kami bisa mengabadikan batu Watu Ulo di tengah lautan, seperti ular yang sedang berenang. Seperti ini.
Photo by Yoga Tri Priyanto 
Gugusan Tujuh 'Pulau' Karang

Di tengah laut Watu Ulo ada 7 batu karang raksasa yang jika dilihat pada sudut tertentu tampak seolah membentuk gugusan. Batu karang ini sering disebut pulau oleh penduduk setempat. Masing-masing punya bentuk dan nama yang berbeda-beda, yaitu Dhampar Kencana, Genteng/Kura-Kura, Kodok, Kresna, Narada, dan Kajang (menurut pak penjaga pantai). Ada juga yang menyebut namanya Batara Guru, Kresna, Narada, Nusa Barong, dan Kajang.
Photo by Yoga Tri Priyanto 
Tapi ada satu batu karang yang tak punya nama sendiri. Konon pulau itu (entah yang mana, agak susah mengikuti penjelasan pak penjaga pantai) dihuni ular-ular ganas, sehingga tidak pernah dikunjungi.


Watu Ulo, legenda dan penjelasan ilmiahnya 


Watu Ulo adalah batu karang bersisik sepanjang puluhan meter yang sekilas tampak seperti tubuh ular naga dalam mitologi Jawa. Batu ini memanjang dari pantai hingga laut. Menurut keterangan pak penjaga pantai yang satu lagi, bagian pangkal batu yang terkubur pasir sebenarnya mencapai kawasan hutan bakau di belakang pantai. Sementara bagian ujungnya masih ada beberapa puluh meter lagi yang tersembunyi di bawah permukaan air laut.
Photo by Yoga Tri Priyanto 
Asal-usul batu karang ini dikaitkan dengan sejumlah legenda. Dua yang paling populer adalah legenda mengenai ular raksasa yang diperintahkan bersemedi oleh Ajisaka serta kisah pertarungan Nagaraja dan Raja Mina (ini nama raja ikan). Konon Raden Mursada dan Mursaud (atau Marsudo dan Joko Samudera menurut versi cerita yang lain) suatu hari memancing di laut. Di atas batu itulah Marsudo atau Mursada tak sengaja memancing ikan ajaib Raja Mina yang kemudian ia lepaskan. Raja Mina pun berjanji untuk membalas budi suatu saat nanti.

Beberapa waktu kemudian mereka memancing lagi. Kali ini Joko Samudera atau Mursaud yang kailnya tersangkut ular raksasa. Ular ini mengancam nyawa keduanya. Lalu datanglah pertolongan dari Raja Mina yang kemudian mempersembahkan cemeti ajaib. Cemeti ini lalu dipukulkan ke tubuh ular hingga terbelah menjadi tiga bagian. Konon ekor dan kepalanya tersebar di pantai Jawa yang lain. Sementra tubuhnya menjadi watu ulo di Jember.

Dari sisi ilmiah, legenda ini jelas tidak masuk akal. Tapi sejauh ini saya belum berhasil menemukan penelitian oleh ilmuwan Indonesia yang membuktikan asal terbentuknya watu ulo secara ilmiah. Kalau dilihat dari bentuknya yang mirip dengan kolom-kolom basal di sejumlah pantai di dunia (silakan baca artikelku tentang itu di sini. Jangan baca copas-an yang di situs-situs lain, ya :D), sepertinya watu ulo ini terbentuk dari lava erupsi vulkanik yang terjadi di jaman purba. Aliran lava yang bertemu dengan air laut kemudian mendingin dalam waktu singkat. Seperti botol kaca berisi air panas yang retak jika direndam dalam air es, lava beku ini kemudian juga mengalami retakan-retakan hingga menjadi batu karang serupa sisik. Tapi ini baru teoriku saja

Akuarium Alam Mini Nan Cantik

Di balik watu ulo terdapat bagian pantai yang tak tampak ketika air laut pasang. Karena saat kami ke sana airnya sedang surut, jadi bagian tersebut terlihat dan bisa dilewati. Bagian pantai itu ditumbuhi banyak sekali ganggang dan rumput laut. Ratusan teritip menumpang hidup di pinggiran batu karang yang senantiasa lembap. Sementara ceruk-ceruk di batu karang yang berukuran sedang penuh terisi air laut, menjadi kolam ikan mini. Inilah yang disebut pak penjaga pantai akuarium alam.
Photo by Dwi Andi Susanto 
Memang kelihatan cantik, sih. Rasanya seperti memandang bagian kecil dari kehidupan laut. Di kolam-kolam temporer tersebut ada beberapa ekor ikan kecil, kepiting mini, dan bulu babi. Malahan saat itu ada beberapa warga yang sedang mengumpulkan bulu babi.


Photo by Dwi Andi Susanto 
Mitos Watu Ulo

Kalau bicara tentang mitos pantai selatan,sudah pasti tak ada habisnya. Mulai dari ombak ganas yang rutin memakan korban sampai kerajaan Nyai Roro Kidul (atau Nyi Roro Kidul? Saya juga kurang paham mana yang paling benar). Sementara menurut keterangan pak penjaga pantai (yang kisah hidupnya sempat jadi heboh di situs berita kami) Watu Ulo ini gerbang gaib menuju keraton sang ratu kidul. Dan di bawahnya ada sejumlah harta karun. Boleh percaya, boleh tidak. Toh, namanya juga mitos.

Aneka Ritual di Watu Ulo

Karena macam-macam mitos gaib yang meliputinya, pantai Watu Ulo ini lantas dipercaya menyimpan aura mistis, bahkan bisa membawa berkah. Tak jarang yang nekat semedi malam-malam buat cari wangsit. Setiap tanggal Syawal bahkan rutin diadakan larung sesaji sebagai bentuk terima kasih atas berkah laut selama setahun. Waktu kami di sana, kebetulan ada satu orang ibu yang lagi ritual. Melakukan gerakan-gerakan ala film Suzanna.
Photo by Dwi Zain Mustofa 
Jadi, itulah sekelumit oleh-oleh cerita yang saya bawa dari liputan travel di Watu Ulo Jember. Karena liputannya khusus edisi Jember, jadi masih ada beberapa tempat lain di Jember yang mau saya ceritakan.
By the way, this is our picture.



We're cute, right?

2 komentar:

  1. Watu Ulonya malah lebih mirip buaya kalo aku liatnya >.< (dari foto yang kamu share). Eh itu cantik bener yak akuarium alamnya ^^ Kapan ya aku bisa ke sana?

    BalasHapus
  2. Iya juga, sih. Setelah dilihat-lihat lagi mirip ekor buaya. Hehehe..

    Coba main ke sana dong. Lumayan, sekali jalan bisa dapet dua pantai. Watu Ulo sama Papuma (di baliknya Watu Ulo). :D

    BalasHapus